Thursday, 28 September 2017

Napak Tilas Samanhudi, Tokoh Representasi Pemuda Masa Kini

Surakarta, (23/09) – Para siswa Sekolah Penerus Bangsa (SPB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan rangkaian kunjungan ke Museum Samanhudi yang terletak di Jalan Samanhudi, Sondakan, Laweyan, Surakarta. Dalam acara Napak Tilas Sarekat Dagang Islam tersebut, kunjungan dimulai dari Museum Samanhudi menuju makam Samanhudi di Kabupaten Sukoharjo dan berakhir dengan acara diskusi di Masjid Laweyan.

Perjalanan diawali dengan materi singkat yang diberikan oleh Suwardi selaku Ketua Komunitas Peduli Museum Samanhudi. Beliau menjelaskan tentang biografi Samanhudi dari kecil hingga akhir hayat. Menurutnya, banyak sekali sifat Samanhudi yang patut dicontoh selain  dari segi entrepreneurship-nya

“Haji Samanhudi itu orangnya dermawan, rela berkorban dan peduli terhadap lingkungan.” tuturnya.
Materi selanjutnya diberikan oleh Santi selaku staf Kelurahan Sondakan. Beliau menuturkan tentang awal mula berdirinya Museum Samanhudi di Kelurahan Sondakan. Museum Samanhudi telah berdiri sekitar enam tahun sejak diresmikannya pada 28 April 2011 oleh matan Walikota Solo, Ir. Joko Widodo. 

Kelurahan Sondakan merupakan salah satu nomina desa wisata yang sedang gencar melakukan pemberdayaan potensi desa. Setiap tahunnya digelar acara Napak Budaya Samanhudi yang meliputi tirakatan, ritual doa bersama untuk almarhum Samanhudi, ziarah di makam Samanhudi, dan kirab yang dimulai dari Kelurahaan Sondakan hingga berakhir di makam Samanhudi.

Sebelum pergi, para siswa SPB diajak mengeksplorasi museum. Aziz, seorang penjaga museum, menjelaskan kembali awal berdirinya museum yang dicetuskan oleh Yayasan Warna Warni Indonesia. Dijelaskan pula bagaimana kehidupan Samanhudi dan pendirian Sarekat Dagang Islam.

Perjalanan kembali dilanjutkan ke makam Samanhudi. Namun sebelum sampai di makam, para siswa SPB berhenti di Masjid Laweyan. Masjid tersebut merupakan bukti peninggalan zaman Belanda yang dulunya sering digunakan sebagai tempat musyawarah anggota Sarekat Dagang Islam.

 Penjelajahan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah pemberian Ir. Soekarno yang terletak di Jalan Liris Belukan, Kampung Nyaen, Pajang, Laweyan. Rumah yang sudah berumur setengah abad itu, diberikan Ir. Soekarno sebagai tanda terima kasih dan penghargaan kepada Samanhudi sebagai Pahlawan Nasional.

Tempat sejarah terakhir yang dikunjungi adalah Makam Samanhudi. Samanhudi dimakamkan disamping makam isteri keduanya, Marbignah. Dalam batu nisannya tertulis “Disini dimakamkan pendiri Sarekat Dagang Islam KH. Samanhudi, Lahir: th 1868, Wafat: Jumat Pahing 28 Desember 1956 sebagai Pahlawan Nasional RI”

Diskusi yang kembali diadakan di Masjid Laweyan, benar-benar menghakhiri  acara Napak Tilas Sarekat Dagang Islam siang itu. Pada diskusi tersebut, siswa di bagi dua kelompok dan diberi permasalahan apa yang akan dilakukan jika mereka menjadi Samanhudi di masa kini.