Surakarta, (23/09) – Para siswa
Sekolah Penerus Bangsa (SPB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan
rangkaian kunjungan ke Museum Samanhudi yang terletak di Jalan Samanhudi,
Sondakan, Laweyan, Surakarta. Dalam acara Napak Tilas Sarekat Dagang Islam
tersebut, kunjungan dimulai dari Museum Samanhudi menuju makam Samanhudi di
Kabupaten Sukoharjo dan berakhir dengan acara diskusi di Masjid Laweyan.
Perjalanan diawali dengan materi
singkat yang diberikan oleh Suwardi selaku Ketua Komunitas Peduli Museum
Samanhudi. Beliau menjelaskan tentang biografi Samanhudi dari kecil hingga
akhir hayat. Menurutnya, banyak sekali sifat Samanhudi yang patut dicontoh
selain dari segi entrepreneurship-nya
“Haji Samanhudi itu orangnya
dermawan, rela berkorban dan peduli terhadap lingkungan.” tuturnya.
Materi selanjutnya diberikan oleh
Santi selaku staf Kelurahan Sondakan. Beliau menuturkan tentang awal mula
berdirinya Museum Samanhudi di Kelurahan Sondakan. Museum Samanhudi telah
berdiri sekitar enam tahun sejak diresmikannya pada 28 April 2011 oleh matan
Walikota Solo, Ir. Joko Widodo.
Kelurahan Sondakan merupakan
salah satu nomina desa wisata yang sedang gencar melakukan pemberdayaan potensi
desa. Setiap tahunnya digelar acara Napak Budaya Samanhudi yang meliputi
tirakatan, ritual doa bersama untuk almarhum Samanhudi, ziarah di makam
Samanhudi, dan kirab yang dimulai dari Kelurahaan Sondakan hingga berakhir di
makam Samanhudi.
Sebelum pergi, para siswa SPB diajak
mengeksplorasi museum. Aziz, seorang penjaga museum, menjelaskan kembali awal
berdirinya museum yang dicetuskan oleh Yayasan Warna Warni Indonesia. Dijelaskan
pula bagaimana kehidupan Samanhudi dan pendirian Sarekat Dagang Islam.
Perjalanan kembali dilanjutkan ke
makam Samanhudi. Namun sebelum sampai di makam, para siswa SPB berhenti di
Masjid Laweyan. Masjid tersebut merupakan bukti peninggalan zaman Belanda yang
dulunya sering digunakan sebagai tempat musyawarah anggota Sarekat Dagang
Islam.
Penjelajahan dilanjutkan dengan kunjungan ke
rumah pemberian Ir. Soekarno yang terletak di Jalan Liris Belukan, Kampung
Nyaen, Pajang, Laweyan. Rumah yang sudah berumur setengah abad itu, diberikan
Ir. Soekarno sebagai tanda terima kasih dan penghargaan kepada Samanhudi
sebagai Pahlawan Nasional.
Tempat sejarah terakhir yang
dikunjungi adalah Makam Samanhudi. Samanhudi dimakamkan disamping makam isteri
keduanya, Marbignah. Dalam batu nisannya tertulis “Disini dimakamkan pendiri
Sarekat Dagang Islam KH. Samanhudi, Lahir: th 1868, Wafat: Jumat Pahing 28
Desember 1956 sebagai Pahlawan Nasional RI”
Diskusi yang kembali diadakan di
Masjid Laweyan, benar-benar menghakhiri
acara Napak Tilas Sarekat Dagang Islam siang itu. Pada diskusi tersebut,
siswa di bagi dua kelompok dan diberi permasalahan apa yang akan dilakukan jika
mereka menjadi Samanhudi di masa kini.
No comments:
Post a Comment